DROPPIISHOPS.COM – Fenomena kabut tebal yang meliputi wilayah Solo, Sukoharjo, dan Karanganyar menarik perhatian warga setempat. Banyak yang berspekulasi bahwa kabut tersebut berasal dari hujan abu akibat aktivitas vulkanik. Namun, menurut penjelasan dari BMKG, kondisi ini murni terjadi secara alami.

Haris Syahid Hakim, prakirawan BMKG Stasiun Ahmad Yani Semarang, menjelaskan bahwa kabut biasanya terbentuk karena perpaduan berbagai faktor seperti peningkatan uap air, pendinginan suhu udara, serta pencampuran massal udara. Di area perkotaan besar, kabut bisa menjadi lebih tebal dan bertahan lama akibat adanya tambahan partikel seperti debu atau polutan udara, termasuk dari aktivitas pembakaran.

Ia juga menyarankan untuk mencermati beberapa tanda saat terjadi kabut tebal, misalnya apakah suhu terasa lebih dingin atau ada sedikit bau asap. Berdasarkan data cuaca yang dikumpulkan, di wilayah Solo dan sekitarnya selama seminggu terakhir pada pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, suhu udara relatif normal di kisaran 24–25 derajat Celsius. Namun, pada Kamis pagi, terjadi penurunan hingga 23 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan udara mencapai 90–100 persen kondisi ideal bagi pembentukan kabut.

Lebih lanjut, analisis menunjukkan bahwa hotspot atau sumber titik api beberapa hari terakhir hanya ditemukan sejumlah kecil di wilayah Boyolali, dengan intensitas moderat. Selain itu, angin yang bertiup dari arah timur cenderung tidak mengangkat polutan yang bisa mencemari kabut.

Kesimpulannya, kabut tebal yang terjadi di Solo dan sekitarnya sepenuhnya merupakan proses alami karena kombinasi pendinginan suhu udara dan tingginya uap air yang terhalang oleh lapisan atmosfer tertentu. Kabut ini akan menghilang saat matahari mulai menyinari kawasan tersebut. Sebaliknya, jika kabut bercampur polutan seperti asap pembakaran, maka fenomena tersebut akan bertahan hingga siang hari.

Sebelumnya, kepanikan akibat kabut juga terjadi di Sukoharjo dan Karanganyar. Kepala BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, membantah bahwa kabut tebal di wilayah tersebut disebabkan oleh erupsi Gunung Semeru. Ia menegaskan bahwa tidak ada partikel abu yang menempel di genting rumah atau dedaunan pohon pada hari Kamis dini hari.

Menurut KURNIATOTO, fenomena tersebut adalah bagian dari siklus rutin musim pancaroba yang ditandai oleh cuaca tak menentu seperti hujan yang datang tiba-tiba, perubahan pola angin, hingga kemunculan kabut tebal. Ia juga memprediksi bahwa fenomena serupa kemungkinan besar akan terjadi dalam beberapa hari mendatang sebagai tanda peralihan musim.

Dengan begitu, warga tidak perlu khawatir berlebihan karena kabut tebal ini adalah sesuatu yang wajar terjadi setiap tahun saat memasuki musim pancaroba.

Baca Juga : Fenomena Alam Ini Picu Peringatan Peneliti: Risiko Tsunami Besar di Pantai Barat AS

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *